Ogoh-ogoh
Ogoh-ogoh adalah Karya seni patung raksasa dalam budaya Bali yang melambangkan Bhuta Kala, menjadi salah satu ikon dalam menyambut perayaan upacara Hari Raya Nyepi (Tahun Baru Caka)
Makna Filosofi dari ogoh-ogoh itu sendiri yaitu, mengajarkan manusia untuk memurnikan diri dari sifat-sifat yang buruk dan mencapai keseimbangan dalam kehidupan.
Pembuatan ogoh-ogoh itu sendiri akan dibuat oleh Pemuda Pemudi atau Seka Truna Truni di tiap-tiap Banjar, pembuatan ini bisa memakan waktu sampai berminggu minggu atau berbulan bulan, mereka akan membuat ogoh-ogoh dari filosofi yang ada, hal ini juga membuat para pemuda pemudi banjar menjadi saling rukun.
Semakin berkembangnya jaman, ogoh-ogoh mulai dimodifikasi tanpa menghilangkan makna dari filosofinya, dimodifikasi dengan menggunakan mesin agar bisa bergerak, tetapi masih banyak juga yang tidak menggunakan mesin.
Saat parade biasanya ogoh-ogoh akan diiringi dengan tari-tarian seperti obor, pembawa kayon, fragmen tari dan baleganjur.
Ogoh-ogoh biasanya akan di Arak pada saat malam Pengrupukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Bertujuan untuk mengusir kekuatan negatif agar masyarakat dapat menyambut hari raya Nyepi dengan jiwa dan hati yang bersih.
Setelah di Arak, ogoh-ogoh akan dibakar, hal itu sebagai bentuk penyucian diri dari lingkungan atau sifat-sifat negatif agar pada saat hari raya Nyepi masyarakat dapat menjalankannya dengan jiwa dan hati yang bersih.
Tetapi di beberapa desa dilarang untuk membuat ogoh-ogoh, salah satunya adalah Desa Adat Renon. Kenapa demikian? pada awalnya Sekitar tahun 1985 atau 1986, banjar-banjar di Kota Denpasar mulai membuat ogoh-ogoh untuk diarak pada Hari Pengerupukan. Begitu pula warga banjar di Desa Adat Renon. Para pemuda banjar sangat bersikeras mengeluarkan kreativitasnya dalam pembuatan ogoh-ogoh dan menciptakan karya terbaiknya.
Malam Hari Pengrupukan tiba. Desa Adat Renon mengalami hal-hal Gaib seperti beberapa warga melihat ogoh-ogoh itu bergerak sendiri, ada juga yang mendengar ogoh-ogoh itu menangis, dan hal-hal Gaib lainnya.
Masih di malam yang sama, Ida Sesuhunan (Dewa yang dipuja dalam bentuk manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa) yang berada di Pura Dalem dan Ida Sesuhunan Baris China berencana akan mesineb (Kembali ke asal-Nya masing-masing) setelah berada di Pura Bale Agung. Tradisi ini diadakan sebagai rangkaian dari proses upacara menyambut Hari Raya Nyepi. Namun Ida Sesuhunan di Pura Dalem dan Baris China tidak berkenan untuk mesineb. Hal itu terlihat dari banyaknya orang yang masih kesurupan atau kerauhan.
Saat itu diperoleh Bisikan dari Beliau, agar warga tidak melakukan pawai ogoh-ogoh demi keselamatan bersama. Saat itu warga dan pengurus desa sepakat untuk tidak melakukan pawai ogoh-ogoh. Setelah itu Ida Sesuhunan baru berkenan untuk mesineb. Sejak kejadian itu Desa Adat Renon melarang warganya membuat ogoh-ogoh demi keselamatan bersama.
https://vt.tiktok.com/ZSrASdWLy/


Komentar
Posting Komentar